Just another WordPress.com site

Budaya Facebook Dikalangan Mahasiswa

Perkembangan dunia tulis menulis sejak era reformasi ke sini, sungguh menggembirakan. Dari penerbitan buletin, newsletter, jurnal, koran, tabloid, majalah, hingga buku bermunculan di mana-mana. Media teks tersebut terus tumbuh, meski tidak sedikit yang akhirnya mati muda. Dari sekian banyak perkembangan media teks ini, ternyata ada satu benang merah yang— dapat saya temukan.

Yaitu dijadikannya golongan muda (baca: mahasiswa) sebagai konsumen atau pembeli. Namun, tidak semata-mata sekadar menjadi konsumen, sebagian dari mereka juga terdorong untuk produktif menghasilkan karya. Munculnya penerbit-penerbit gang (baca: alternatif) dan newsletter-newsletter indie, yang sebagian besar digerakan oleh orang-orang muda, menjadi sedikit bukti betapa golongan muda juga mampu tampil sebagai subyek.

Bukti lain keprigelan keberaksaraan orang-orang muda ini dapat kita dicandrai dari tulisan artikel yang termuat di media massa. Baik offline maupun online. Bahkan, buku!

Posisi artikel hari Ini
Kalau kita telisik, hari-hari ini ada kenyataan menarik yang dapat kita temukan ketika membaca media cetak (koran). Tidak sedikit koran yang secara khusus menyediakan space untuk memuat tulisan mahasiswa. Mau bukti? Forum & Akademia (Kompas Jateng), Prokon Aktivis (Jawa Pos, Surabaya), Debat (Suara Merdeka, Semarang), Masalah Kita dan Universitaria (Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta) secara teratur memuat tulisan para mahasiswa.

Saya melihat, artikel (opini) merupakan salah satu bentuk komunikasi antara produsen (redaksi) dengan konsumen (pembaca). Tentu saja selain rubrik surat pembaca. Jadi, artikel juga bagian dari mengikat konsumen sekaligus upaya memperluas pasar.

Logika sederhananya begini: jika tulisan si A dimuat, minimal A akan membeli koran yang memuat tulisannya, entah untuk alasan prestise atau kebutuhan database. Wilayah sosial si A pun biasanya juga akan membeli, minimal membaca. Bisa karena masih ada kaitan hubungan kekerabatan, teman kerja, relasi organisasi, pengagum, mahasiswanya—kalau ia dosen, dan seterusnya.

Kenyataan ini membawa tiga tafsir: Pertama, media hari ini lebih memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menegaskan keberadaannya lewat tulisan. Menyediakan tandon atau penampung bagi kegundahan dan keresahan yang tengah dialami. Suara, ide-ide, cinta cita generasi muda didengar. Tentu saja ini sangat positif, lebih-lebih terjadi pada saat mahasiswa mengalami ancaman lost generation, dan kesepian.

Tafsir kedua, aktivitas keberaksaraan mahasiswa yang kian meningkat. Berupa kesadaran pentingnya membaca (buku). Mengapa? Karena sebelum sampai pada aktivitas menulis, terlebih dahulu harus membaca. Kalau tidak membaca, lalu apa yang akan ditulis? Dan membaca yang efektif adalah membaca yang disertai pula dengan keinginan untuk menceritakan kembali, baik dengan lisan maupun tulisan.

Tafsir ketiga, sebenarnya ini bagian dari strategi dagang juga. Bagian dari upaya mengikat konsumen yang sudah mapan sekaligus ekspansi atau perluasan pasar. Tidak ada yang salah dengan logika demikian. Hanya saja, teramat sayang jika banyak mahasiswa lebih memilih menjadi penonton atau konsumen akhir yang ndlohom, diam, anteng, tidak berdaya. Menuruti kehendak produsen tanpa ada upaya untuk ambil bagian dalam bisnis content, yaitu ikut mengisi koran dengan menulis artikel.

Saya kok yakin sekali bahwa rubrik opini (tulisan artikel) tidak akan hilang selama media tersebut terus terbit. Bahkan kecenderungan pemberian fasilitasi kepada penulis pemula (mahasiswa) untuk mempublikasikan tulisannya akan diikuti oleh koran-koran lainnya. Jadi, tidak salah kalau dikatakan artikel adalah solusi cerdas memertemukan dua kepentingan, yaitu kepentingan bisnis dan sosial.

Keberaksaraan mahasiswa
Kemunculan artikel para penulis muda di media bisa menjadi sebuah wacana sanding, kalau tidak mau disebut tanding Memilih bersikap kekeh menjaga keresahan, bersepi-sepi berhadapan dengan bertumpuk buku yang berserak. Berada di depan komputer berjam-jam, menyusun huruf demi huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat dan seterusnya. Sementara sebagian lain dari generasi muda kian banal; nyantai, menikmati hidup, mall, café, game, televisi, kongko-kongko, berhaha hehe berbicara tentang sesuatu yang entah…. .

Wacana sanding tersebut jika terus menerus tumbuh, bukan tidak mungkin akan betul-betul menjadi wacana tanding. Apalagi jika melihat capaian teknologi informasi. Komputer misalnya. Ia membuat kerja kita menjadi sangat efisien. Bayangkan jika kita menulis artikel dengan menggunakan laptop generasi pertama (baca: mesin ketik manual—yang kini masih banyak digunakan sekretaris desa). Berapa banyak kertas yang harus masuk kantong sampah, berapa liter tip ex yang harus dibedakkan untuk menutup kesalahan penulisan huruf?

Tak hanya komputer, di era kemenangan teknologi informasi sekarang ini, telah tersedia pula fasilitas bernama internet. Dalam hitungan detik, kita sudah bisa mendapatkan berbagai informasi penting yang dibutuhkan.

Secara fisik pun, para mahasiswa sekarang tidak dalam kondisi pertarungan hidup mati. Rasa-rasanya kita (kalau boleh meng-kita-kan saya), belum pernah merasa kuatir: “Besok akan makan apa?” Atau mendapati kantong celana dalam keadaan nol rupiah.

Meski begitu, tetap saja sementara dari kita rabun membaca, lumpuh menulis. Membaca disederhanakan sebagai membaca majalah mode, tabloid gosip, komik, sedangkan menulis mengalami penyempitan makna. Menjadi sekedar menulis materi kuliah, menulis jawaban soal ujian, menulis lowongan kerja, dan lain-lain yang sejenis.

Tidak ada yang salah memang, tapi rasa-rasanya jadi tidak imbang. Jika segenap waktu harus dipenuhi dengan aktivitas-aktivitas kemesraan emosional. Tak acuh terhadap tantangan-tantangan intelektual. Tumbuh menjadi generasi: Tongkrongan Global, Paradigma Lokal.

Tapi, begitu melihat penulis-penulis muda mulai bermuculan dan sikap akomodatif media massa, saya jadi optimis, pelan namun pasti akan tumbuh generasi: Tongkrongan Global, Paradigma Global. Generasi yang memiliki kemampuan keberaksaraan tinggi.

Hanya saja, PR buat kita semua adalah, bagaimana membuat gairah literasi (membaca dan menulis) di kalangan mahasiswa ini, terutama di FILKOM GUNADARMA, tumbuh dan terus meningkat. Dan peningkatan itu bukan hasil berproses orang-perorang (by nature), melainkan dilahirkan oleh sebuah sistem (by design) yang utuh, tetap, dan terukur.

Misalnya dengan membuka academic writing sebagai matakuliah pilihan non SKS; secara periodik mengadakan lomba karya tulis ilmiah untuk mahasiswa; lomba resensi buku; bedah buku; meet the author; pemberian beasiswa penulisan buku; workshop riset dan kepenulisan, dlsb.

Menurut Anda?♦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s